Senin, 20 Februari 2012

PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN UNIT PENDIDIKAN KEMENPERIN

FACTUAL PROBLEM

Ancaman Liberalisasi Global
Di wilayah ASEAN telah disepakati sebuah kebijakan bersama melalui ASEAN Economic Community (AEC) yang merupakan upaya bersama untuk menciptakan kawasan ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing tinggi, pembangunan ekonomi yang merata, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi.
AEC selain memiliki peluang juga memiliki tantangan. Bangsa ini perlu waspada terhadap kebebasan lalu lintas tenaga kerja sesuai dengan kesepakatan AEC yang diberlakukan pada tahun 2015. AEC memberikan kebebasan kepada siapapun  tenaga kerja yang memiliki kualifikasi tertentu untuk masuk dan bekerja secara bebas di negara-negara anggota ASEAN. Secara teknis, nantinya ada lembaga khusus yang akan memberi akreditasi atau rekomendasi kepada seorang tenaga kerja. Jika orang tersebut sudah memegang sertifikat atau rekomendasi maka, ia bebas mencari kerja di semua negara anggota ASEAN. Pelaksanaan program ini secara efektif akan berlaku pada tahun 2015 mendatang. Ini sebuah ancaman sekaligus tantangan luar biasa bagi Indonesia. Dalam tiga tahun ke depan, bangsa ini harus menyiapkan sumber daya manusia yang handal jika tidak ingin tergerus dengan kedatangan para ahli atau tenaga kerja dari negara se-ASEAN. Jangan sampai bangsa ini menjadi penonton di rumah sendiri, bahkan kalau bisa tenaga kerja Indonesia harus mampu bekerja di negara lain.

Ancaman Demographic Disaster
Indonesia memiliki sumber daya manusia yang potensial. Jika bisa diberikan pendidikan dengan baik dan benar, maka tidak mustahil bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju lebih cepat. Akan tetapi jika potensi SDM ini tidak dikelola dengan taktis, yang akan dituai di masa depan justru sebuah bencana. Salah satu bencana akibat salah asuh terhadap kelompok usia produktif adalah demographic disaster.  Demographic disaster, terjadi saat kelompok usia muda yang produktif (15-34 tahun) jumlahnya melesat cepat di dekade ini, melebihi kelompok usia lainnya. Apabila tidak diiringi dengan pertambahan jumlah lapangan kerja dan peningkatan kompetensi SDM, bisa dibayangkan betapa rawannya kondisi sosial ekonomi bangsa kelak. Jangan sampai usia produktif bangsa ini yang melimpah bukan berdampak positif malah menjadi beban bagi bangsa.

Tantangan Bonus Demografi
Selain itu Indonesia diperkirakan akan mendapat bonus demografi pada 2020-2030 yang menguntungkan dari sisi pembangunan. Bonus demografi adalah fenomena di mana jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak. Dari data yang ada jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70 persen, sedangkan sisanya, 30 persen, adalah penduduk yang tidak produktif yaitu usia dibawah 15 tahun dan di atas 64 tahun. Dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara nonproduktif hanya 60 juta. Dengan proporsi tersebut, tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif akan sangat rendah, yakni 44 per 100 penduduk produktif pada 2020-2030. Bonus demografi tidak akan tercapai jika tidak disertai dengan peningkatan pendidikan, akses pelayanan kesehatan, dan peningkatan gizi. Jika tidak disiapkan, bonus demografi justru akan menimbulkan banyak masalah, terutama meningkatkan angka pengangguran dan pasti akan membebani negara. Kondisi saat ini baik data, fakta, ancaman dan peluang yang dimiliki bangsa Indonesia ini harus dirumuskan dengan benar dan teratur menggunakan metodologi yang teruji dan tepat serta dirumuskan oleh para pemikir yang kompeten dan berjiwa semangat sehingga akan menghasilkan sebuah output yang tepat sasaran

Kondisi wirausaha di Indonesia
Dalam masalah pengangguran usia muda, berdasarkan data dari Bappenas bahwa pada periode bulan Agustus 2010 sampai bulan Februari 2011 bahwa kelompok usia produktif yaitu kelompok usia 15-24 tahun yang berstatus pengangguran terbuka (tidak bekerja sama sekali), mencapai 24 persen total angkatan kerja muda yang berjumlah 20-an juta. Dari jumlah ini juga, yang hanya bisa kerja paruh waktu mendekati enam juta orang. Menurut Bappenas terjadi peningkatan usia pengangguran bagi penduduk Indonesia usia muda yaitu meningkat sebesar 455.270 orang. Terdiri dari berpendidikan SLTP 7,5% menajadi 7,8%, dan SLTA dari 11,9% menjadi 12,2%. Dalam waktu 6 bulan saja, terdapat tambahan penganggur usia 15-24 tahun lebih dari 455 ribu orang. Jika tidak serius diperhatikan, kondisi ini akan mencemaskan generasi NEET atau not in education, employment, or training. Mereka akan makin sulit terserap lapangan kerja. Karena itu, studi Bank Dunia bahwa Indonesia menikmati bonus demografi mulai 2018, bisa terjadi sebaliknya. Bencana demografi juga di depan mata, seandainya pemerintah lengah dan membiarkan terus naiknya pengangguran di kelompok muda. Bahkan OECD mencatat, pengangguran muda yang berlarut akan menimbulkan efek negatif berupa penurunan kemampuan, hilangnya nilai-nilai dalam diri (biasanya kaum muda sangat percaya diri) dan remuknya motivasi. Lebih jauh, situasi ini merupakan bibit meningkatnya kemiskinan, orang sakit jiwa, dan sulitnya anak-anak masuk sekolah. Apalagi tak bisa diingkari biayanya terus naik. Ada program sekolah gratis, namun sumbangannya besar. Karena itu, gelembung penduduk usia produktif harus dikelola, sehingga betul-betul jadi bonus. Walaupun saat ini, kata John P. Martin, Direktur OECD, situasi ekonomi sedang tidak menguntungkan. Perhatian terhadap usia produktif tidak bisa ditunda. Jangan sampai kondisi ini justru menjadi masa sendu kaum muda. Pembiaran terhadap kelompok usia produktif yang sarat kebutuhan ini bisa menjadi bencana bagi perekonomian mendatang. Bukan hanya menjadi potensi migrasi besar-besaran ke kota besar, mereka juga akan berpikir bahwa sekolah ternyata hanya buang waktu, toh pada akhirnya tidak bisa bekerja (www.ideas-aceh.com). Dalam sebuah pernyataan yang bersumber dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bahwa suatu negara akan mampu membangun apabila memiliki wirausaha sebanyak 2% dari jumlah penduduknya. jadi, jika bangsa Indonesia berpenduduk 200 juta maka wirausahawan di Indonesia harus lebih dari 4 juta orang. Menurut Heidjrahman (1982) bahwa keberhasilan pembangunan yang dicapai oleh negara Jepang ternyata di dukung oleh 2 % wirausaha tingkat sedang dan 20% tingkat wirausaha tingkat kecil. Dan ini merupakan kunci keberhasilan wirausaha di Jepang.

CONCEPTUAL PROBLEM
Dalam sebuah pernyataan Usman (2003) bahwa diberbagai negara Amerika Latin dan Asia termasuk Indonesia, meskipun industrialisasi meningkat, pengangguran tetap saja meningkat. Fenomena ini menolak hipotesis semula, bahwa masalah pengangguran akan dapat diselesaikan dengan perkembangan ekonomi dengan cara perkembangan industrialisasi, peningkatan perdagangan internasional dan penanaman modal asing. Dari pernyataan tersebut maka kewirausahaan menjadi sangat penting dalam mengatasi permasalahan terutama masalah pengangguran. Dalam mengatasi pengangguran perlu ditanamkan sikap mental wirausaha sehingga pada diri mereka akan terjangkiti ciri dan watak wirausaha yang akan mendasari setiap perilaku kehidupannya (Sukidjo, 2005).
Menurut Buchari Alma, (2007) bahwa manfaat tumbuhnya wirausaha dalam sebuah negara adalah sebagai berikut:
1.    Menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran
2.    Sebagai generator pembangunan lingkungan, bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan dan sebagainya
3.    Memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana seharusnya bekerja keras untuk sukses

LANDASAN TEORI
Pengertian Wirausaha dan wirausahawan
Menurut Drucker (1959, dalam Suryana, 2006) kewirausahaan diartikan sebagai kemanpuan inovatif dan kreatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Sedangkan Meredith mengartikan kewirausahaan sebagai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan kesuksesan.
Hebert dan Link (1982, dalam Fauzi 2009), menyusun beberapa tema tentang kewirausahaan berdasarkan peran dan tokohnya, yaitu:
1.    Wirausahawan adalah orang yang berasumsi bahwa resiko berhubungan dengan ketidakpastian (dengan tokohnya seperti Cantillon,Thunen, Mangoldt, Mill, Hawley, Knight, Mises, Cole, Shackle)
2.    Wirausahawan adalah seorang inovator atau penentu atau pembeharu (dengan tokohnya seperti Baudeau, Bentham, Thunen, Schmoller, Sombart, Weber, Schumpeter)
3.    Wirausahawan adalah seorang pengambil keputusan (dengan tokohnya seperti Cantillon, Menger, Marshall, Wieser, Amasa Walker, Francish Walker, Keynes, Mises, Shackle, Cole, Schultz)
4.    Wirausahawan adalah pemimpin industri (dengan tokohnya seperti Say, Saint-Simon, Amasa Walker, Francis Walker, Marsall, Wieser, Sombart, Weber, Schumpeter)
5.    Wirausahawan adalah seorang manajer atau pemimpin (dengan tokohnya seperti Say, Mill, Marshall, Menger)
6.    Wirausahawan adalah seorang organisator dan koordinator dari sumber daya ekonomi (dengan tokohnya seperti Say, Walras, Wieser, Schmoller, Sombart, Weber, Clark, Davenport, Schumpeter, Coase)
7.    Wirausahawan adalah seorang pemiliki perusahaan (dengan tokohnya seperti Quesnay, Wieser, Pigou, Hawley)
8.    Wirausahawan adalah seorang manjikan atas faktor-faktor industri (dengan tokohnya seperti Amasa Walker, Francis Walker, Wieser, Keynes)




Watak Wirausaha
Dalam sebuah penelitian terhadap 300 wanita pengusaha di California (Buchari Alma, 2007) menyajikan data bahwa urutan watak/sikap yang harus dimiliki seorang wirausaha yang sukses adalah sebagai berikut:
No    Sifat./Perilaku    5 (%)    4 (%)    3 (%)    2 (%)    1 (%)    Rata-rata
1    Integritas    75    17    8    0    0    4,7
2    Tanggung Jawab    66    27    7    1    3    4,6
3    Kerja Keras    54    33    11    2    1    4,6
4    Percaya Diri    61    28    11    1    0    4,5
5    Kebebasan    60    27    12    1    0    4,5
6    Dorongan Mencapai Sesuatu    54    33    11    2    1    4,4
7    Semangat    51    34    14    1    3    4,3
8    Ketepatan    51    34    15    1    0    4,3
9    Bisa Bergaul    47    41    11    1    0    4,3
Data diatas menyajikan bahwa beberapa sifat/perilaku agar seseorang sukses untuk dalam menjalankan wirausaha, maka wirausahawan tersebut harus integritas/kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, percaya diri, kebebasan, dorongan mencapai sesuatu, semangat, ketepatan dan bisa bergaul.  Dalam penelitian yang lain di Amerika Serikat (BN. Marbun, 1993) bahwa seorang wirausaha yang sukses harus memiliki karakter sebagai berikut:
No    Ciri-ciri    Watak
    Percaya Diri    Kepercayaan, Ketidaktergantungan, kepribadian mantap, optimisme
    Berorientasi tugas dan hasil    Kebutuhan atau haus prestasi, berorientasi laba atau hasil, tekun dan batah, tekad-kerja keras-motivasi, energik, penih inisiatif,
    Pengambil resiko    mampu mengambil resiko, suka pada tantangan, mampu memimpin
    Kepemimpinan    Mampu memimpin, dapat bergaul dengan orang lain, menanggapi saran dan kritik
    Keorisinilan    Inovatif, kreatif, fleksibel, banayk sumber, serba bisa, mengetahui banyak
    Berorientasi masa depan    Pandangan kedepan, perseptif
 Geoffrey G. Meredith, (2008) mengemukakan bahwa seorang wirausaha hendaknya memiliki perwatakan pribadi sebagai wirausaha, watak yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah sebagai berikut:
1.    Berjiwa Wirausaha
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa wirausaha. Jiwa wirausaha diuraikan oleh Meredith adalah sebagai berikut:
a.    Percaya diri, dalam arti para pencari kerja sebaiknya memiliki optimisme yang tinggi bahwa mereka memiliki kemampuan yang dapat disumbangkan dalam proses produksi, sehingga tidak akan bergantung kepada pihak lain. Dengan adanya individualitas dan kepercayaan yang tinggi mereka berani mencoba untuk menciptakan usaha sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.
b.    Berorientasi pada tugas dan hasil dalam arti dalam menjalankan kegiatan selalu berusaha mengejar prestasi tertinggi, berorientasi pada laba atau keunggulan yang lain. Untuk dapat mencapai hal tersebut mereka harus menyadari perlunya kerja keras, memiliki dorongan yang kuat, ulet, tekun, energik serta inisiatif. Dengan kata lain mereka perlu mengembangkan motif berprestasi.
c.    Pengambil risiko, dalam arti mereka lebih senang bekerja pada kegiatan yang memiliki risiko pada tingkat sedang sehingga mendorong pengembangan kreativitas dan inisiatifnya.
d.    Kepemimpinan, dalam arti mereka mampu bertindak sebagai pemimpin yang mengutamakan leadership dari pada manajerialnya. Kepemimpinan (leadership) akan cenderung mengembangkan sikap bekerja secara kolektif, menempatkan karyawan sebagai mitra kerja sehingga tercipta iklim kerja yang kondusif. Sebaliknya kepemimpinan managerial cenderung mendudukkan diri sebagai "boss" yang senang memerintah, merasa memiliki status yang lebih tinggi sehingga menempatkan karyawan sebagai sejajar dengan factor produksi lainnya.
e.    Keorisinilan, dalam arti produk atau kegiatan yang dilakukan tidak hanya meniru yang telah ada, melainkan mereka menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang lain, yang merupakan ciri khas yang dapat diunggulkan. Untuk menciptakan orisinalitas mereka harus kreatif dan inovatif, bersifat fleksibel, memiliki pengetahuan luas serta memiliki banyak sumber.
f.    Berorientasi ke masa depan, dalam arti dapat memprediksi apa yang diperlukan di masa depan yang pada saat kini belum banyak dilakukan. Untuk itu, mereka sebaiknya mampu melakukan analisis tentang kekuatan, kelemahan, peluang serta tantangan, yang lebih dlkenal dengan analisis SWOT.
2.    Kepemimpinan
3.    Mengambil Resiko
4.    Mengambil Keputusan
5.    Perencanaan Bisnis
6.    Menggunakan waktu secara efektif
Ahli lain, seperti M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993) dalam Suryana (2006) mengemukakan delapan karakteristik kewirausahaan sebagai berikut:
1.    Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab akan selalu mawas diri
2.    Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih risiko yang moderat, artinya selalu menghindari risiko, baik yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi
3.    Confidence in their ability to success, yaitu memiliki kepercayaan diri untuk memperoleh kesuksesan
4.    Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik dengan segera
5.    High level of energy, yaitu memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginan demi masa depan yang lebih baik
6.    Future orientation, yaitu berorientasi serta memiliki perspektif dan wawasan jauh kedepan
7.    Skill at organizing, yaitu memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
8.    Value of achievement over money, yaitu lebih menghargai prestasi daripada uang
Vernom A. Musselman (1989), Wasty Sumanto (1989) dan Goeffey Meredith (1989) dalam Suryana (2006) meringkas ciri-ciri kewirausahaan yang telah dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut:
1.    Memiliki keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri
2.    Memiliki kemauan untuk mengambil resiko
3.    Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman
4.    Mampu memotivasi diri sendiri
5.    Memiliki semangat untuk bersaing
6.    Memiliki orientasi terhadap kerja keras
7.    Memiliki kepercayaan diri yang besar
8.    Memiliki dorongan untuk berprestasi
9.    Tingkat energi yang tinggi
10.    Tegas
11.    Yakin terhadap keyakinan diri sendiri
Wasty Sumanto (1989) dalam Suryana (2006) menambahkan ciri-ciri yang k-12 dan ke-13 sebagai berikut:
12.    Tidak suka uluran tangan dari pemerintah/pihak lain dalam masyarakat
13.    Tidak tergantung pada alam dan berusaha untuk tidak mudah menyerah
Sedangkan Goeffrey Meredith (1989) menambahkan ciri yang ke-14 sampai dengan ke-16 yaitu:
14.    Kepemimpinan
15.    Keorisinalan
16.    Berorientasi ke masa depan dan penuh gagasan

Wirausaha yang Berhasil
Mengacu pendapat Geoffrey G. Meredith, (1992) para penganggur sebaiknya memiliki ciri dan watak wirausaha sebagai berikut :
1.    Percaya diri, dalam arti para pencari kerja sebaiknya memiliki optimisme yang tinggi bahwa mereka memiliki kemampuan yang dapat disumbangkan dalam proses produksi, sehingga tidak akan bergantung kepada pihak lain. Dengan adanya individualitas dan kepercayaan yang tinggi mereka berani mencoba untuk menciptakan usaha sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.
2.    Berorientasi pada tugas dan hasil dalam arti dalam menjalankan kegiatan selalu berusaha mengejar prestasi tertinggi, berorientasi pada laba atau keunggulan yang lain. Untuk dapat mencapai hal tersebut mereka harus menyadari perlunya kerja keras, memiliki dorongan yang kuat, ulet, tekun, energik serta inisiatif. Dengan kata lain mereka perlu mengembangkan motif berprestasi.
3.    Pengambil risiko, dalam arti mereka lebih senang bekerja pada kegiatan yang memiliki risiko pada tingkat sedang sehingga mendorong pengembangan kreativitas dan inisiatifnya.
4.    Kepemimpinan, dalam arti mereka mampu bertindak sebagai pemimpin yang mengutamakan leadership dari pada manajerialnya. Kepemimpinan (leadership) akan cenderung mengembangkan sikap bekerja secara kolektif, menempatkan karyawan sebagai mitra kerja sehingga tercipta iklim kerja yang kondusif. Sebaliknya kepemimpinan managerial cenderung mendudukkan diri sebagai "boss" yang senang memerintah, merasa memiliki status yang lebih tinggi sehingga menempatkan karyawan sebagai sejajar dengan factor produksi lainnya.
5.    Keorisinilan, dalam arti produk atau kegiatan yang dilakukan tidak hanya meniru yang telah ada, melainkan mereka menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang lain, yang merupakan ciri khas yang dapat diunggulkan. Untuk menciptakan orisinalitas mereka harus kreatif dan inovatif, bersifat fleksibel, memiliki pengetahuan luas serta memiliki banyak sumber.
6.    Berorientasi ke masa depan, dalam arti dapat memprediksi apa yang diperlukan di masa depan yang pada saat kini belum banyak dilakukan. Untuk itu, mereka sebaiknya mampu melakukan analisis tentang kekuatan, kelemahan, peluang serta tantangan, yang lebih dlkenal dengan analisis SWOT.
David H. Bangs, Jr (1995) menyatakan bahwa untuk menjadi seorang wirausaha yang berhasil ada beberapa hal yang harus dilakukan seorang wirausaha, yaitu: 
1.    Sharing dan menguatkan gagasan/ide peluang usaha
2.    Menentukan bidang usaha yang hendak di mulai dan faktor-faktor pendukungnya
3.    Dukungan dari keluarga
4.    Memiliki sumber informasi (pameran, pesaing, perusahaan pendukung, asosiasi dagang, pelatihan, pusat pengembangan, universitas dan informasi lainnya)
5.    Mengenal pasar (lokasi, produk/jasa, pesaing dsb)
6.    Membuat Jaringan
7.    Membangun citra positif
8.    Strategi pemasaran
Ada beberapa faktor pemicu kewirausahaan, seperti yang dikemukakan Suryana (2006) tergambar dalam model proses kewirausahaan sebagai berikut:
Penyebab Kegagalan wirausaha Zimmerer (1996)
1.    Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang menyebabkan kewirausahaan kurang berhasil.
2.    Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan teknik, memvisualisasi usaha, mengkoordinasikan, mengelola sumber daya manusia dan mengintegrasikan operasi perusahaan
3.    Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas, mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam pemeliharaan aliran kas akan menghambat operasional perusahaan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar
4.    Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan amaka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan
5.    Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang kurang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha.
6.    Kurangnya pengawasan peralatan
7.    Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha
8.    Ketidakmampuan dalam melakukan transisi/peralihan kewirausahaan
PEMBAHASAN
Dalam merumuskan kurikulum kewirausahaan, hendaknya ada beberapa hal harus diperhatikan. Hal-hal tersebut adalah :
1.    Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya maka, ada beberapa mentalitas atau karakteristik yang harus ada dalam sosok seorang wirausaha. Karakter tersebut meliputi:
No    Karakteristik/Mentalitas    Teori Pendukung
1    Integritas, Kejujuran    Buchari Alma
2    Tanggung Jawab    Buchari Alma, M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer
3    Kerja Keras, Mandiri    Buchari Alma, Vernom A. Musselman, Wasty Sumanto
4    Percaya Diri    Buchari Alma, BN. Marbun, Meredith, M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer, Vernom A. Musselman, Wasty Sumanto
5    Semangat, Dorongan Mencapai Sesuatu, Berorientasi Masa Depan    Buchari Alma, BN. Marbun, Meredith, Vernom A. Musselman, Wasty Sumanto
6    Bisa Bergaul    Buchari Alma
7    Berani, Pengambil Resiko, Berani Memutuskan    BN. Marbun, Meredith, M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer, Vernom A. Musselman, Wasty Sumanto
8    Orisinil, Kreatif, Inovatif,  kebebasan    Buchari Alma, BN. Marbun, Meredith
9    Kepemimpinan, Manajemen    BN. Marbun, Meredith, M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer
10    Perencana dan Manajemen Waktu    Meredith
11    Berwawasan, Berpengetahuan    M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer, Vernom A. Musselman, Wasty Sumanto

Berdasarkan matrikulasi analisis karakteristik diatas, karakteristik yang harus tumbuh dalam seorang calon wirausaha adalah:
a.     Integritas, Kejujuran
b.    Tanggung Jawab
c.    Kerja Keras, Mandiri
d.    Percaya Diri
e.    Semangat, Dorongan Mencapai Sesuatu, Berorientasi Masa Depan
f.    Bisa Bergaul
g.    Berani, Pengambil Resiko, Berani Memutuskan
h.    Orisinil, Kreatif, Inovatif,  kebebasan
i.    Kepemimpinan, Manajemen
j.    Perencana dan Manajemen Waktu
k.    Berwawasan, Berpengetahuan
Oleh karena itu, unit pendidikan harus merumuskan kurikulum, kondisi lingkungan dan perangkat yang lain untuk menumbuhkan mindset dan karakteristik kewirausahaan sesuai dengan yang telah diuraikan diatas.
2.    Menggunakan Pendekatan Praktis
Banyak wirausahawan yang sukses karena memang mempraktekan berwirausaha di alam bebas bukan hanya dibangku kuliah saja. Oleh karena itu kurikulum unit pendidikan harus memperbanyak parktek. Salah satu contoh kegiatan praktek adalah dengan memberikan pinjaman lunak kepada para mahasiswa untuk menjalankan bisnis yang riil. Mungkin secara garis besar tahapannya sebagai berikut:
a.    Unit pendidikan mengadakan kompetisi pengembangan unit pendidikan
b.    Unit Pendidikan membentuk Tim Bisnis yang terdiri dari 3-4 orang
c.    Tiap tim membuat rencana bisnis yang dipresentasikan
d.    Unit pendidikan memberikan soft loan (pinjaman lunak) kepada para tim yang dengan jangka waktu tertentu (1 tahun sampai 2 tahun).
e.    Unit Pendidikan membentuk tim penilai yang terdiri dari para akademisi, praktisi, dan yang lain
f.    Unit pendidikan secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi perkembangan tiap tim
g.    Unit pendidikan mengadakan pertemuan, diskusi, pelatihan yang diperlukan dalam mendukung program tersebut
h.    Tim penilai mengadakan penilaian terhadap bisnis yang dikembangkan oleh tim berdasarkan kriteria yang telah ditentukan
Metode ini, besar kemungkinan mampu mendidik peserta didik baik itu dari sisi mentalitas, pengetahuan, dan keterampilan untuk menjadi seorang wirausaha.

3.    Membangun Tim Bisnis
Pengalaman Michael Dell, pendiri Dell Computers, membuktikan bahwa satu orang tidak mungkin melakukan semuanya sendirian, melainkan harus di back-up dengan tim yang solid dan berkinerja tinggi. Dengan tim bisnis yang tangguh segala potensi dan sumberdaya bisa dimaksimalkan. Beberapa keuntungan yang di dapat dari sebuah tim bisnis antara lain:
a.    Berkembangnya ide/gagasan dalam mengembangkan bisnis
b.    Mengurangi resiko kerugian karena ditanggung banyak orang
c.    Mampu saling memberikan motivasi
d.    Belajar untuk bekerjasama dalam sebuah tim
4.    Membangun Jaringan Wirausahawan
Menurut David H. Bangs, Jr (1995) bahwa untuk menjadi seorang wirausaha yang berhasil maka seorang wirausaha harus mampu membangun jaringan. Seperti halnya dengan sebuah pepatah bahwa jika anda ingin menjadi politikus hebat maka masuklah partai politik, kalau ingin menjadi pecatur hebat masuk group pencatur, kalau ingin menjadi pembinis hebat bergaulah dengan para pembisnis. Itulah keajaiban lingkungan dalam merubah kita. Oleh karena itu, unit pendidikan harus mampu mengkondisikan agar para peserta didik terlibat aktif dalam keanggotaan komunitas bisnis. Keterlibatan peserta didik dalam komunitas bisnis akan mengkondisikan peserta didik untuk siap sebagai seorang wirausaha.
5.    Kurikulum
Ada kurikulum yang penting di ajarkan kepada seorang calon wirausaha. Kurikulum tersebut dibedakan menjadi kurikulum wajib dan kurikulum tambahan. Kurikulum wajib hendaknya dijadikan sebagai kurikulum kurikuler sedangkan kurikulum tambahan dapat diberikan sebagai kurikulum ektrakulikuler. Kurikulum ekstrakulikuler dapat diberikan kepada peserta didik melalui Sentra Pengembangan Kewirausahaan. Kurikulum wajib meliputi:
a.    Manajemen Pemasaran (Kurikulum APP)
b.    Matematika Bisnis (Kurikulum APP)
c.    Akuntansi (Kurikulum APP)
d.    Manajemen Operasi (Kurikulum APP)
e.    Manajemen Keuangan (Kurikulum APP)
f.    Hukum Perdagangan (Kurikulum APP)
g.    Pengendalian Mutu (Kurikulum APP)
h.    Manajemen Resiko (Kurikulum APP)
i.    Perencanaan Bisnis (Kurikulum Prasetya Mulya)
j.    Perilaku Konsumen (Kurikulum Prasetya Mulya)
k.    Pengembangan Komunitas (Kurikulum Prasetya Mulya)
l.    Teknik Pemasaran  (Kurikulum Prasetya Mulya)
Sedangkan kurikulum tambahan meliputi:
a.     Manajemen Waktu
b.     Komunikasi Interpersonal
c.    Teknik Presentasi
d.    Manajemen SDM (Kurikulum APP)
e.    Inovasi dan Kreativitas (Kurikulum Prasetya Mulya)
f.    Networking
g.    Tim Bisnis
h.    Pengembangan Diri (Kurikulum Prasetya Mulya)
i.    Kepemimpinan (Kurikulum Prasetya Mulya)
j.    Perpajakan Pengambilan Keputusan (Kurikulum Prasetya Mulya)
6.    Sentra Pengembangan Kewirausahaan
Guna mendukung program pembentukan kewirausahaan di unit pendidikan maka perlu didukung dengan adanya sentra pengembangan kewirausahaan. Sentra pengembangan kewirausahaan ini memiliki fungsi sebagai berikut:
a.    Sebagai pusat pengembangan SDM kewirausahaan.
b.    Sebagai pusat pengembangan usaha unit pendidikan (status unit pendidikan BLU).
c.    Sebagai pusat pengembangan produk unit pendidikan.
d.    Sebagai pusat kreativitas dan inovasi kewirausahaan.
e.    Sebagai tempat untuk sharing pengetahuan, pengelaman, ide, gagasan dalam pengembangan kewirausahaan.
f.    Sebagai Pusat Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan kewirausahaan. 

KESIMPULAN
Dalam melakukan pengembangan kurikulum kewirausahaan, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Hal-hal tersebut adalah :
1.    Menginternalisasi karakateristik wirausaha kepada peserta didik
2.    Melakukan pendekatan praktis
3.    Membentuk Tim Bisnis
4.    Membangun Jaringan Bisnis
5.    Evaluasi Kurikulum
6.    Membangun Sentra Pengembangan Wirausaha

SARAN
1.    Dalam menyusun pengembangan kurikulum hendaknya Pusdiklat Industri dan unit pendidikan melakukan studi banding ke beberapa unit pendidikan di luar Kemenperin yang telah menerapkan kurikulum kewirausahaan. Beberapa unit pendidikan yang dapat digunakan sebagai pembading diantaranya: Universitas Ciputra, Universitas Binus, Universitas Prasetya Mulya, APP Jakarta, Renald Khasali School for Enterpreneur dsb.
2.    Perlu juga untuk melakukan wawancara atau diskusi dengan para akademisi di bidang kewirausahaan dan para praktisi yang telah benar-benar sukses sebagai seorang wirausahawan.
3.    Dalam menciptakan seorang wirausaha maka tidak cukup untuk merevisi kurikulum saja tetapi juga perlu untuk menciptakan sebuah kondisi lingkungan yang mendukung, sarana prasarana, tradisi/kebiasaan yang tumbuh, networking yang dibangun dan pusat pengembangan kewirausahaan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar