Sabtu, 25 Mei 2013

SENYUM PALSU

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah. Di sebuah rumah sakit swasta yang tergolong mewah dan mahal. Semua pegawai berpenampilan sangat rapi. Mereka juga dituntut untuk senantiasa ramah dan murah senyum kepada para pelanggannya. Mereka terlihat sabar dalam menjelaskan hal-hal apa saja yang ditanyakan oleh para pelanggannya. Walaupun kalau saya nilai pribadi pertanyaan-pertanyaan para pelanggan itu terkadang menjengkelkan juga tetapi mereka menguatkan diri mereka untuk tetap sabar. Tetapi yang membuat saya terkejut ketika pelanggan itu pergi salah satu perawat Rumah Sakit tersebut mengepalkan gengaman tangannya di belakang pelanggan yang berjalan meninggalkan tempat tersebut. Perawat yang lain menjulurkan lidahnya kepada pelanggan tersebut. Perawat yang satunya lagi mulutnya berkomat-kamit menirukan ocehan pelanggan tadi. wah... inikah keramahan semu karena tuntutan pekerjaan.

 Keramahan palsu, senyum palsu, berbaik hati palsu, kesabaran palsu dan bentuk-bentuk kepalsuan yang lain menghiasi setiap ruang demi ruang di sekitar kita. Kenapa semuanya palsu, kenapa tidak beramah tamah yang tulus, senyum yang tulus, baik hati yang tulus. Semua tergantung pada apa dasar kita berbuat demikian. Jika dasar kita berbuat sesuatu itu adalah karena materi maka kepalsuan itu akan muncul. Seperti halnya keramahtamahan perawat di Rumah Sakit seperti diceritakan di atas bahwa semua didasarkan karena tuntutan pekerjaan, agar tetap dapat bekerja di tempat itu, agar tidak dipecat, agar tetap mendapatkan penghasilan.

Bagaimana jika semua bentuk kepalsuan itu diubah 180 derajat menjadi keikhlasan. Sekali lag
i semua tergantung pada dasar apa kita melakukan itu. Sedangkan alasan yang paling baik dalam melakukan segala hal adalah mencari keridhoan Allah. Semua pekerjaan jika didasarkan pada keridhoan Allah maka yang hadir adalah keikhlasan bukan kepalsuan. Jika segala hal didasarkan pada kepalsuan itu hanya mendapatkan materi tetapi jika didasarkan pada keikhlasan selain materi yang didapat juga pahala dari keridhoan Ilahi yang didapat.

Mari kita sama-sama belajar untuk mendasarkan segala aktivitas kita hanya mencari ridho Allah, agar selain kita mendapatkan materi juga kita akan mendapatkan ridho Allah, dan keridhoan Allah akan berbuah surga.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar