Selasa, 14 Mei 2013

SKENARIO ALLAH

Detik demi detik perjalanan hidup ini tentulah atas Kehendak Allah. Mungkin adakalanya kita bertanya pada diri kita sendiri. Kenapa orang tua kita mereka, kenapa hidup kita seperti ini, kenapa kita berada dipekerjaan ini, kenapa dan kenapa dan masih banyak lagi pertanyaan kenapa dalam diri kita. Kitapun sadar apapun yang terjadi dalam diri kita dari kita lahir sampai saat ini adalah sebuah ketentuan, adalah sebuah kehendak, adalah sebuah skenario dari Allah Sang Penguasa Alam Semesta ini. Adakalanya logika kita tidak terima dengan skenario yang Allah berikan kepada kita. Apa yang dialami saat ini tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. Adakalanya kita berpikir bahwa keinginan dan harapan kita lebih baik daripada skenario yang Allah tentukan atas diri kita. Terlalu banyak otak ini berpikir bahwa logika kita lebih baik dari apa yang Allah skenariokan. Padahal pastilah skenario Allah itu pasti lebih baik daripada apa yang manusia pikirkan. Coba kalau kita baca ayat ini "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)

Kalau kita cermati ayat diatas bahwa sesuatu yang menurut kita baik untuk kita, belum tentu baik menurut Allah untuk kita. Dan sesuatu menurut kita buruk bagi kita, belum tentu buruk menurut Allah bagi kita. Karena yang mengetahui masa depan itu hanyalah Allah. Allahlah yang membuat rencana yang indah untuk kita dengan skenario tersebut. Oleh karena itu sikap yang tepat atas skenario Allah yang menurut kita kurang baik, yang tidak sesuai apa yang kita inginkan dan harapkan adalah meyakini dulu bahwa itu adalah skenario terbaik yang Allah berikan kepada kita walaupun saat itu tidak ada logika apapun dalam diri kita bahwa itu adalah skenario terbaik, walaupun saat itu kita yakin 100% bahwa pikiran kitalah yang lebih tepat.

Pertanyaannya adalah bagaimana jika kita saat ini berada pada posisi dimana skenario Allah tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Seperti halnya yang telah diuraikan di atas yang pertama adalah kita harus yakin bahwa apa yang Allah tentukan itu adalah sebuah keputusan terbaik atas diri kita.  Memang cukup sulit meyakini sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita pikirkan bahwa pikiran kita lebih baik. Namun demikian saat itu cukuplah Surat Al Baqarah : 216 yang melandasi apa yang kita yakini. Bukanlah janji Allah itu adalah sesuatu yang pasti. Bukanlah Allah itu Tuhan raja Manusia yang pasti memenuhi apa yang dia janjikan dalam kitab-Nya.   

Selanjutnya coba kita bertanya kepada hati kita. Bertanya secara jujur, lugas dan tanpa tendensi apapun. Kesampingkan dulu bisikan otak kita. orientasikan diri kita kepada hati kita. Maka hati itu akan mengatakan pada diri kita dengan jujur juga. Hati kita akan membuka tirai belenggu pikiran kita. Hati itu akan menyajikan sisi yang lain yang selama ini tidak kita pikirkan. Dan saat itulah kita tersadarkan bahwa ada hikmah-hikmah tersebunyi atas skenario Allah itu. Kitapun bersyukur atasnya. 

Bagaimana kalau saat itu hikmah belum kita dapatkan atau bagaimana kalau pikiran kita itu terlalu dominan sehingga bisikan hati itu tidak terdengar. Maka kembalilah ke ayat AL Baqarah : 216. Suatu saat nanti, apa yang Allah skenariokan pasti akan kita syukuri. mungkin tidak hari ini, mungkin tidak pula sebulan, dua pulan kedepan bahkan setahun kedepan. Tetapi yakinilah bahwa hikmah itu pastilah datang pada situasi yang tepat. Yakinilah bahwa skenario Allah itu benar-benar terbaik bagi kita.

Berikut ini ada sebuah cerita. Ketika itu ada seorang pemuda yang sedang mengikuti seleksi untuk masuk STPDN. Karena dukungan dari orang tuanya terutama dukungan dana (penyuapan) pemuda ini tinggal seleksi tes akhir yakni Pantukhir. Pesaingnya tinggal satu orang. Walaupun pengumuman belum diumumkan tetapi keyakinan pemuda ini beserta orang tuanya sudah 100%. Pada suatu hari hasilnya diumumkan, ternyata pemuda ini tidak lolos. Kejadian itu membuat depresi bagi sang pemuda dan orang tuanya. Depresi karena harapan yang terlalu tinggi. Singkat cerita pemuda ini diterima di salah satu PTN. Di PTN tersebut pemuda ini mengenal lebih dalam agama dan kehidupanpun berubah 180 derajat menjadi sosok pemuda yang lebih baik. Pada saat itulah dia menemukan hikmah dari skenario Allah yang tidak meluluskan dia di STPDN. Jika dia berada di STPDN bisa jadi dia adalah korban kekerasan, atau dia tidak akan mengenal lebih dalam tentang agama. Kemudian bagaimana jadinya ketika dia mendapatkan gaji dari pekerjaannya padahal ketika dia masuk menggunakan uang suap. apakah gajinya itu halal bagi dia. Bagaimana kalau gaji itu haram maka seumur hidup dia akan makan uang haram. Ini adalah salah satu cerita bahwa skenario Allah itu yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar